PenaGaruda.co
PENAGARUDA.CO, LAMPUNG SELATAN – Pembangunan tiga Tugu Tuping di kawasan wisata kuliner Dermaga Bom Kalianda menuai kecaman keras dari keluarga besar Pahlawan Nasional Radin Inten II sekaligus perwakilan Keratuan Lampung.
Mereka menilai Dinas Kelautan Provinsi Lampung telah abai, baik dalam proses pembangunan maupun dalam pemeliharaan ikon budaya tersebut.
Juru bicara Keratuan Lampung, Yogha Pramana Aji, SH (Raden Mas Kesuma Ratu), menegaskan bahwa tugu itu bukan sekadar pajangan, melainkan menggambarkan Pasukan Tuping 12, pasukan kehormatan yang memiliki nilai sejarah sakral bagi Keratuan.
“Saya membenarkan bahwa wajah Tugu Tuping tersebut merupakan wajah Pasukan Tuping 12 milik Keratuan kami,” tegasnya. Selasa (9/12/2025).
Meski demikian, Yogha mengungkapkan bahwa pembangunan tugu tersebut dilakukan tanpa satu pun bentuk komunikasi dengan pimpinan Keratuan.
“Saya belum pernah mengetahui pemerintah berkoordinasi dengan Kakanda kami Dalom Kesuma Ratu sebagai pimpinan Keratuan terkait pembuatan Tugu Wajah Tuping itu,” ujarnya.
Ia menilai kelalaian tersebut bukan hanya persoalan administrasi, tetapi menunjukkan ketidakhormatan terhadap sejarah Lampung.
“Mereka mesti tahu bahwa Tuping itu bukan topeng yang dianggap lelucon atau hiburan. Bagi kami, Tuping adalah simbol pasukan khusus yang berjuang dengan darah dan air mata. Masing-masing Tuping memiliki garis keturunan dan kehormatan,” tegasnya lagi.
Lebih jauh, Yogha menyoroti kondisi tugu yang kini terlihat rusak dan terbengkalai akibat minimnya perawatan dari pihak terkait.
“Koordinasi tidak ada, perawatannya pun tidak dijaga. Jadi saya bingung, sebenarnya mereka ini maunya apa?” kritiknya.
Ia menegaskan, sejak awal pihak Keratuan tidak pernah mempermasalahkan pembangunan tugu tersebut walaupun tanpa koordinasi, selama keberadaannya mampu menjadi ikon budaya dan kebanggaan Lampung. Namun kondisi yang terjadi justru membuat pihaknya merasa kecewa.
“Dulu kami tidak mempermasalahkan mereka membuat tugu tanpa koordinasi, asalkan bisa bermanfaat sebagai ikon Lampung tercinta. Tapi melihat kondisi seperti ini, jujur kami sangat miris,” katanya.
Yogha mengaku memilih menahan diri untuk tidak menyampaikan persoalan ini kepada para pemimpin Keratuan karena khawatir menyinggung perasaan mereka.
“Saya tidak berani membahas hal ini kepada Dunungan kami Radin Imba Kesuma Ratu V ataupun ayahandanya Dalom Kesuma Ratu IV,” tutupnya.***