PenaGaruda.co
PENAGARUDA.CO, SIDOMULYO, - Semangat olahraga, dalam ajang kompetensi Open Turnamen Karang Taruna Cup 1 Sidomulyo yang sudah memasuki babak empat besar, diciderai praktik perjudian terselubung.
Open turnamen yang dilaksanakan di areal irigasi Dusun Sidosari, Desa Sidomulyo, Kecamatan Sidomulyo, Kabupaten Lampung Selatan, dibuka sejak awal bulan Mei lalu.
Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun, praktik perjudian terselubung sudah mulai nampak sejak memasuki putaran kedua, hanya saja semakin hari, aktivitas tersebut sudah mulai terang-terangan.
Konon, praktik perjudian dalam turnamen bola voli, berkisar puluhan juta rupiah, ajang gengsi botoh nampak terlihat dari para pemain yang dihadirkan hingga luar daerah, sayangnya praktik tersebut penonton maupun Aparat Penegak Hukum (APH) tidak bisa berbuat apa-apa.
Praktik perjudian dikhawatirkan bisa mempengaruhi permainan, karena sudah tidak Fair Play lagi, para pejudi dengan taruhan besa, tentunya dengan berbagai cara agar menang.
Mereka bisa saja menyogok pemain, bahkan wasit agar memenangkan tim tertentu, tentunya ini sangat merugikan dunia olahraga, khususnya bola voli.
Meskipun demikian. Hal ini, menjadi sorotan tajam bagi penonton yang menyaksikan. Aktivitas perjudian yang diduga terkoodinir ini merupakan aktivitas tindakan ilegal dan melanggar hukum dan terkadang menimbulkan kerusuhan di tepi lapangan.
Para petaruh ini datang dengan tujuan yang berbeda. Di saat penonton hanya ingin dapat hiburan, para petaruh yang berasal dari berbagai tempat itu ingin cuan alias cari untung.
Namun saat diamati lebih jeli, tampak jelas perbedaannya. Para petaruh ini selalu memegang uang di salah satu tangannya, baik itu pecahan Rp20 ribu, Rp50 ribu bahkan Rp100 ribu. Mereka biasa berkerumun di satu titik lapangan agar negosiasi sesama petaruh lebih mudah saat pertandingan berlangsung.
"Sudah menjadi ajang gengsi bukan ajang cari bakat lagi ini mah, bisa di liat dari pemainnya bukan cari bibit lokal. Padahal seremoni pembukaannya waktu itu sudah bagus dan di saksikan oleh pejabat dan pengamat olahraga kok makin kesini jadi ajang judi malah terang-terangan lho," kata Yo (48) penggemar olahraga yang hampir setiap malam menyaksikan turnamen voli tersebut. Pada Rabu (10/6).
Sumber di atas juga menyoroti peran aktif berbagai pihak, seperti Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI), PBVSI Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia (PBVSI) serta Aparat Penegak Hukum (APH) yang diduga terkesan pembiaran oleh praktik tersebut.
"Seharusnya membina, bukan ditonton apalagi banyak pejabat yang turut menyaksikan bukan terkesan tutup mata," lanjut dia.
Diketahui, Kemarin Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengimbau masyarakat untuk menghindari judi bola selama gelaran Piala Dunia 2026 berlangsung. Walaupun beda ajang atau kompetisinya, tapi permainan judi itu dilarang.
Hingga berita ini ditayangkan oleh redaksi belum ada keterangan secara resmi oleh pihak-pihak terkait .*